Sunday, September 4, 2016

Apa perlu kita menangis saat bersedih?

Siapa yang pernah mengalami putus cinta? Hmm, pasti tahu rasanya bukan? Sedih dan selalu teringat orang tersebut. Setiap orang pernah bersedih. Bersedih identik dengan menangis. Ya, kita bisa menangis dengan berbagai alasan sehingga menyebabkan orang itu bisa mengeluarkan air matanya. Seperti saat kita putus cinta, misalnya, atau mendapat ejekan dari teman-teman, dan sebagainya. Ngomong – ngomong tentang menangis, pasti diantara kita pernah mendengar kalimat ini “pria itu tidak menangis, menangis itu hanya untuk wanita.”  Menurut saya, menangis itu hak semua orang, baik itu pria maupun wanita. Memang wanita lebih banyak mengeluarkan air mata dibandingkan pria.
Menangis berasal dari kata dasar tangis. Dalam kamus, tangis diartikan ungkapan perasaan sedih (kecewa, kesal dan sebagainya) dengan mengucurkan air mata dan mengeluarkan suara (tersedu-sedu, menjerit-jerit, dan sebagainya). Secara ilmiah, menangis adalah respon fisik akibat adanya refleks atau gejolak emosi yang dirasakan oleh seseorang. Sebagai contoh, ada beberapa orang yang sedang mengalami stress justru dilampiaskan dengan menangis. Kenapa bisa? Sebenarnya tidak aneh, menangis merupakan mekanisme untuk melepaskan tekanan emosi dan mekanisme dari badan untuk melepaskan stress.
Menangis pasti erat hubungannya mengenai air mata. Air mata yang dikeluarkan oleh manusia ada bermacam – macam. Apa saja? Pertama, air mata basal. Air mata basal berasal dari kelenjar air mata dan bertujuan untuk pelumas mata atau membasahi mata. Ketika kita berkedip pasti air mata basal akan keluar untuk membasahi mata kita supaya tidak kering. Kedua, air mata refleks. Air mata ini dinamakan refleks karena berasal dari respon alamiah mata apabila mata kemasukan zat – zat asing dari luar. Misalnya debu, sabun, ataupun saat Anda memotong dan mengupas bawang. Air mata refleks akan memicu otak agar kelenjar lacrimal melepaskan air mata untuk mengeluarkan zat – zat asing yang masuk ke mata. Ketiga, air mata emosional. Air mata inilah yang keluar saat seseorang tengah emosi seperti marah atau malu. Menurut riset yang masih berjalan, air mata emosional mengandung lebih banyak protein ACTH yang banyak dikaitkan dengan tingkat stress seseorang.

Menangis boleh – boleh saja, asalkan tahu batasnya. Menangis yang terlalu lama, misalnya semalaman suntuk, akan menyebabkan mata menjadi sembab dan kantung mata menjadi bengkak. Menangis juga punya porsinya, seperti tertawa. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci “ Segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk bersedih dan ada waktu untuk menari dengan sukacita (Pengkhotbah 3:1a,4a).” Jadi, menangis itu boleh. Tapi ingat, selesai menangis kamu harus bangkit untuk menyelesaikan masalahmu. Memang menangis membuat lega tapi masalahmu tidak akan selesai bukan jika kamu hanya menangis? Masalah bukan untuk ditangisi tapi untuk diselesaikan. Ingat, “Tuhan berkata, Akulah satu-satunya yang menghiburmu. Jadi, mengapa kamu harus takut terhadap orang? Mereka hanya manusia yang hidup dan mati seperti rumput. (Yesaya 5:12)” Sedih boleh, tapi jangan keterusan ya? Semangat ya