Siapa yang pernah mengalami putus cinta? Hmm, pasti tahu rasanya bukan?
Sedih dan selalu teringat orang tersebut. Setiap orang pernah bersedih.
Bersedih identik dengan menangis. Ya, kita bisa menangis dengan berbagai alasan
sehingga menyebabkan orang itu bisa mengeluarkan air matanya. Seperti saat kita
putus cinta, misalnya, atau mendapat ejekan dari teman-teman, dan sebagainya.
Ngomong – ngomong tentang menangis, pasti diantara kita pernah mendengar
kalimat ini “pria itu tidak menangis,
menangis itu hanya untuk wanita.” Menurut saya, menangis itu hak semua orang,
baik itu pria maupun wanita. Memang wanita lebih banyak mengeluarkan air mata
dibandingkan pria.
Menangis berasal dari kata dasar tangis. Dalam kamus, tangis diartikan ungkapan
perasaan sedih (kecewa, kesal dan sebagainya) dengan mengucurkan air mata dan
mengeluarkan suara (tersedu-sedu, menjerit-jerit, dan sebagainya). Secara
ilmiah, menangis adalah respon fisik akibat adanya refleks atau gejolak emosi
yang dirasakan oleh seseorang. Sebagai contoh, ada beberapa orang yang sedang
mengalami stress justru dilampiaskan dengan menangis. Kenapa bisa? Sebenarnya
tidak aneh, menangis merupakan mekanisme untuk melepaskan tekanan emosi dan
mekanisme dari badan untuk melepaskan stress.
Menangis pasti erat hubungannya mengenai air mata. Air mata yang
dikeluarkan oleh manusia ada bermacam – macam. Apa saja? Pertama, air mata
basal. Air mata basal berasal dari kelenjar air mata dan bertujuan untuk
pelumas mata atau membasahi mata. Ketika kita berkedip pasti air mata basal
akan keluar untuk membasahi mata kita supaya tidak kering. Kedua, air mata
refleks. Air mata ini dinamakan refleks karena berasal dari respon alamiah mata
apabila mata kemasukan zat – zat asing dari luar. Misalnya debu, sabun, ataupun
saat Anda memotong dan mengupas bawang. Air mata refleks akan memicu otak agar
kelenjar lacrimal melepaskan air mata untuk mengeluarkan zat – zat asing yang
masuk ke mata. Ketiga, air mata emosional. Air mata inilah yang keluar saat
seseorang tengah emosi seperti marah atau malu. Menurut riset yang masih
berjalan, air mata emosional mengandung lebih banyak protein ACTH yang banyak
dikaitkan dengan tingkat stress seseorang.
Menangis boleh – boleh saja, asalkan tahu batasnya. Menangis yang terlalu
lama, misalnya semalaman suntuk, akan menyebabkan mata menjadi sembab dan
kantung mata menjadi bengkak. Menangis juga punya porsinya, seperti tertawa. Seperti
yang dikatakan dalam Kitab Suci “ Segala
sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa. Ada
waktu untuk bersedih dan ada waktu untuk menari dengan sukacita (Pengkhotbah
3:1a,4a).” Jadi, menangis itu boleh. Tapi ingat, selesai menangis kamu harus
bangkit untuk menyelesaikan masalahmu. Memang menangis membuat lega tapi
masalahmu tidak akan selesai bukan jika kamu hanya menangis? Masalah bukan
untuk ditangisi tapi untuk diselesaikan. Ingat, “Tuhan berkata, Akulah satu-satunya yang menghiburmu. Jadi, mengapa kamu
harus takut terhadap orang? Mereka hanya manusia yang hidup dan mati seperti
rumput. (Yesaya 5:12)” Sedih boleh, tapi jangan keterusan ya? Semangat ya