Sunday, September 4, 2016

Refleksi Hari Ini : Sudahkan Aku Belajar Mengendalikan Emosi Saat Aku Marah?

Masih ingatkah akan cerita Kain dan Habel (Kejadian 4 : 7 – 15) ? Iya, Kain dan Habel sama-sama mempersembahkan persembahan untuk Tuhan. Persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, sehingga Kain sangat sedih dan marah hingga ia membunuh Habel, saudara kandungnya sendiri. Tuhan yang mengetahui hal itu bertanya pada Kain, “Mengapa engkau sangat marah? Mengapa wajahmu tampak sedih?
Semua orang pernah marah, seperti Kain yang marah karena persembahannya tidak diterima oleh Tuhan. Kalau ada yang belum pernah marah, coba angkat tangan? ^^. Marah adalah keadaan dimana seseorang tidak merasa senang dikarenakan suatu hal yang menyebabkan dia gusar. Penyebab seseorang marah ada banyak faktornya, misalnya karena tersinggung, dihina, gagal dalam pencapaian cita-cita, dan lain-lain. Orang melampiaskan rasa marah dengan bermacam-macam cara. Ada yang memaki-maki, ada yang diam saja, ada yang mengekspresikannya dengan membanting sesuatu yang ada didekatnya, bahkan ada juga yang melampiaskannya dengan bentuk tulisan ataupun gambar, dan masih banyak lagi. Kita juga tak memungkiri, dengan melampiaskan marah, kita menjadi lega. Marah memang perlu, seperti halnya tertawa dan menangis.
Marah dikaitkan dengan hormon tubuh, yaitu hormon seretonin. Hormon seretonin adalah hormon yang berfungsi mengontrol suasana hati, nafsu makan dan tidur, juga merupakan hormon yang membuat rasa bahagia dan emosi negatif hilang. Disaat kita merasa marah maka hormon ini dalam tubuh kita sedang rendah. Hormon ini bisa rendah karena berbagai faktor. Misal, saat lapar orang akan mudah merasakan marah. Disaat lapar itu kadar glukosa dalam darah turun, otak juga akan kekurangan energi dan metabolisme tubuh menjadi turun. Hal ini juga akan mempengaruhi hormon seretonin dalam tubuh. Hormon seretonin akan turun yang menyebabkan orang akan gampang marah saat lapar. Contoh lain, saat kita ada tugas sekolah atau tugas kantor, yang menumpuk dan harus selesai besok paginya, pasti kita mau tak mau begadang untuk menyelesaikan tugas semalam suntuk. Waktu tidur pun menjadi berkurang. Kurang tidur juga bisa menyebabkan marah, karena keseimbangan hormon di tubuh terganggu. Hal ini juga akan mempengaruhi hormon seretonin dalam tubuh. Untuk para wanita, pasti juga sudah mengenal istilah sindrom ‘pra menstruasi’ (PMS), bukan? Biasanya saat mengalami sindrom ini kebanyakan wanita cenderung mudah marah dan moody. Saat PMS, hormon estrogen dan progesteron tidak seimbang. Selain hormon progesteron akan mengubah reseptor GABA (gamma aminobutyric acid), yaitu suatu neurotransmitter  dan hormon pada otak kecil, sehingga akan sulit mengontrol perasaan cemas dan stres.  Jika stres maka akan menyebabkan orang mudah marah-marah.
Marah memang perlu, tapi semua ada porsinya dan harus pas, tidak lebih dan tidak kurang.
“Amarahmu hanya menyiksa dirimu sendiri. Apakah engkau pikir duhia ini hanya diciptakan untuk dirimu sendiri? ”(Ayub 8:4).
Dalam kitab suci pun sudah jelas sekali diterangkan. Marah yang berlebihan tidak baik untuk diri sendiri. Marah yang berlebihan akan menyebabkan hormon dalam tubuh menjadi tidak seimbang. Marah yang berlebihan juga akan mempengaruhi pikiran kita dimana pikiran kita akan selalu negatif dan menjadikan diri kita tidak merasakan bahagia atau kedamaian. Pikiran negatif akan menyebabkan kita tertekan, murung, dan tenggelam dalam kesedihan, dimana hal itu bisa mempengaruhi mental yang dapat menyebabkan depresi. Selain itu, pikiran negatif juga dapat mempengaruhi kesehatan kita sehingga menjadi lebih gampang sakit.

“Orang yang mudah marah melakukan hal-hal bodoh...Orang yang sabar sangat bijak. Orang yang mudah marah melakukan kesalahan bodoh. Damai dalam pikiran membuat tubuh sehat,...” (Amzal 14:17a,29-30).

Orang yang marah menimbulkan pertengkaran. Dan orang yang mudah marah bersalah dalam banyak dosa” (Amzal 29:22)

Saat kita merasa marah, yang perlu kita lakukan adalah menenangkan diri sendiri. Tarik napas panjang dari hidung tahan selama beberapa detik dan lepaskan perlahan lewat mulut hingga emosi kita mereda. Sebenarnya marah bisa untuk mengajarkan bagaimana kita mengendalikan diri kita, mengontrol emosi kita dan mengubah pikiran kita dari negatif menjadi positif. Sekali lagi, marah memang penting, tapi harus dalam batas yang wajar, harus pas, tidak berlebihan. Jadi, bagaimana kita agar tidak mudah marah? Jawabannya adalah belajar untuk bersyukur dalam segala keadaan. Hati yang penuh ucapan syukur membuat hidup lebih ringan, damai, pikiran menjadi jernih dan positif, serta perasaan menjadi nyaman. Maka, untuk mengendalikan amarah bukan lagi suatu beban yang berat.

“Jika kamu marah, janganlah berbuat dosa, dan janganlah terus marah sepanjang hari. Jangan memberi kesempatan kepada iblis mengalahkanmu. Jangan buat Roh Kudus sedih. Roh itu adalah bukti dari Allah bahwa kamu milik-Nya. Ia memberikan Roh Kudus kepadamu untuk menunjukkan bahwa Ia akan membebaskanmu pada saatnya. Jauhkanlah semua kepahitan, kemarahan, geram, pertikaian dan fitnah, termasuk semua jenis kejahatan. Ramah dan saling mengasihi, saling mengampunilah kamu seperti Allah telah mengampuni kamu dalam Kristus” (Efesus 4: 26-27, 30-32).

Dalam cuplikan ayat di atas sudah sangat jelas bahwa marah yang berlebihan itu tidak baik. Bahkan jika kamu marah akan menyebabkan Roh Kudus dalam hatimu akan bersedih, dimana kita tahu Roh Kudus akan menyala jika hati kita damai dan penuh kasih. Jadi, yuk mulai sekarang mulai belajar mengendalikan marah kita. Belajar untuk saling mengasihi seperti Hukum Cinta Kasih yang sudah diajarkan oleh Bapa kepada kita, anak-anak yang dikasihiNya. Selamat mencoba, Tuhan memberkati!

Refleksi:

Sudahkan aku belajar mengendalikan emosiku di saat aku marah? 

No comments:

Post a Comment