Masih
ingatkah akan cerita Kain dan Habel (Kejadian 4 : 7 – 15) ? Iya, Kain dan Habel
sama-sama mempersembahkan persembahan untuk Tuhan. Persembahan Kain tidak
diterima oleh Tuhan, sehingga Kain sangat sedih dan marah hingga ia membunuh
Habel, saudara kandungnya sendiri. Tuhan yang mengetahui hal itu bertanya pada
Kain, “Mengapa engkau sangat marah?
Mengapa wajahmu tampak sedih?”
Semua
orang pernah marah, seperti Kain yang marah karena persembahannya tidak diterima
oleh Tuhan. Kalau ada yang belum pernah marah, coba angkat tangan? ^^. Marah adalah
keadaan dimana seseorang tidak merasa senang dikarenakan suatu hal yang
menyebabkan dia gusar. Penyebab seseorang marah ada banyak faktornya, misalnya
karena tersinggung, dihina, gagal dalam pencapaian cita-cita, dan lain-lain. Orang
melampiaskan rasa marah dengan bermacam-macam cara. Ada yang memaki-maki, ada
yang diam saja, ada yang mengekspresikannya dengan membanting sesuatu yang ada
didekatnya, bahkan ada juga yang melampiaskannya dengan bentuk tulisan ataupun
gambar, dan masih banyak lagi. Kita juga tak memungkiri, dengan melampiaskan
marah, kita menjadi lega. Marah memang perlu, seperti halnya tertawa dan
menangis.
Marah
dikaitkan dengan hormon tubuh, yaitu hormon seretonin. Hormon seretonin adalah
hormon yang berfungsi mengontrol suasana hati, nafsu makan dan tidur, juga
merupakan hormon yang membuat rasa bahagia dan emosi negatif hilang. Disaat
kita merasa marah maka hormon ini dalam tubuh kita sedang rendah. Hormon ini
bisa rendah karena berbagai faktor. Misal, saat lapar orang akan mudah
merasakan marah. Disaat lapar itu kadar glukosa dalam darah turun, otak juga
akan kekurangan energi dan metabolisme tubuh menjadi turun. Hal ini juga akan
mempengaruhi hormon seretonin dalam tubuh. Hormon seretonin akan turun yang
menyebabkan orang akan gampang marah saat lapar. Contoh lain, saat kita ada tugas
sekolah atau tugas kantor, yang menumpuk dan harus selesai besok paginya, pasti
kita mau tak mau begadang untuk menyelesaikan tugas semalam suntuk. Waktu tidur
pun menjadi berkurang. Kurang tidur juga bisa menyebabkan marah, karena keseimbangan
hormon di tubuh terganggu. Hal ini juga akan mempengaruhi hormon seretonin
dalam tubuh. Untuk para wanita, pasti juga sudah mengenal istilah sindrom ‘pra
menstruasi’ (PMS), bukan? Biasanya saat mengalami sindrom ini kebanyakan wanita
cenderung mudah marah dan moody. Saat PMS, hormon estrogen dan progesteron
tidak seimbang. Selain hormon progesteron akan mengubah reseptor GABA (gamma aminobutyric acid), yaitu suatu
neurotransmitter dan hormon pada otak
kecil, sehingga akan sulit mengontrol perasaan cemas dan stres. Jika stres maka akan menyebabkan orang mudah
marah-marah.
Marah
memang perlu, tapi semua ada porsinya dan harus pas, tidak lebih dan tidak
kurang.
“Amarahmu
hanya menyiksa dirimu sendiri. Apakah engkau pikir duhia ini hanya diciptakan
untuk dirimu sendiri? ”(Ayub
8:4).
Dalam kitab suci pun
sudah jelas sekali diterangkan. Marah yang berlebihan tidak baik untuk diri
sendiri. Marah yang berlebihan akan menyebabkan hormon dalam tubuh menjadi
tidak seimbang. Marah yang berlebihan juga akan mempengaruhi pikiran kita
dimana pikiran kita akan selalu negatif dan menjadikan diri kita tidak
merasakan bahagia atau kedamaian. Pikiran negatif akan menyebabkan kita
tertekan, murung, dan tenggelam dalam kesedihan, dimana hal itu bisa
mempengaruhi mental yang dapat menyebabkan depresi. Selain itu, pikiran negatif
juga dapat mempengaruhi kesehatan kita sehingga menjadi lebih gampang sakit.
“Orang yang mudah marah
melakukan hal-hal bodoh...Orang yang sabar sangat bijak. Orang yang mudah marah
melakukan kesalahan bodoh. Damai dalam pikiran membuat tubuh sehat,...” (Amzal 14:17a,29-30).
“Orang
yang marah menimbulkan pertengkaran. Dan orang yang mudah marah bersalah dalam
banyak dosa” (Amzal 29:22)
Saat
kita merasa marah, yang perlu kita lakukan adalah menenangkan diri sendiri. Tarik
napas panjang dari hidung tahan selama beberapa detik dan lepaskan perlahan
lewat mulut hingga emosi kita mereda. Sebenarnya marah bisa untuk mengajarkan
bagaimana kita mengendalikan diri kita, mengontrol emosi kita dan mengubah
pikiran kita dari negatif menjadi positif. Sekali lagi, marah memang penting,
tapi harus dalam batas yang wajar, harus pas, tidak berlebihan. Jadi, bagaimana
kita agar tidak mudah marah? Jawabannya adalah belajar untuk bersyukur dalam
segala keadaan. Hati yang penuh ucapan syukur membuat hidup lebih ringan,
damai, pikiran menjadi jernih dan positif, serta perasaan menjadi nyaman. Maka,
untuk mengendalikan amarah bukan lagi suatu beban yang berat.
“Jika kamu marah, janganlah
berbuat dosa, dan janganlah terus marah sepanjang hari. Jangan memberi
kesempatan kepada iblis mengalahkanmu. Jangan buat Roh Kudus sedih. Roh itu
adalah bukti dari Allah bahwa kamu milik-Nya. Ia memberikan Roh Kudus kepadamu
untuk menunjukkan bahwa Ia akan membebaskanmu pada saatnya. Jauhkanlah semua
kepahitan, kemarahan, geram, pertikaian dan fitnah, termasuk semua jenis
kejahatan. Ramah dan saling mengasihi, saling mengampunilah kamu seperti Allah
telah mengampuni kamu dalam Kristus” (Efesus
4: 26-27, 30-32).
Dalam cuplikan ayat
di atas sudah sangat jelas bahwa marah yang berlebihan itu tidak baik. Bahkan
jika kamu marah akan menyebabkan Roh Kudus dalam hatimu akan bersedih, dimana
kita tahu Roh Kudus akan menyala jika hati kita damai dan penuh kasih. Jadi,
yuk mulai sekarang mulai belajar mengendalikan marah kita. Belajar untuk saling
mengasihi seperti Hukum Cinta Kasih yang sudah diajarkan oleh Bapa kepada kita,
anak-anak yang dikasihiNya. Selamat mencoba, Tuhan memberkati!
Refleksi:
Sudahkan aku belajar
mengendalikan emosiku di saat aku marah?
No comments:
Post a Comment